Waktu saya kelas 5 SD, saya pikir gak ada orang yang punya nama sama dengan saya. Waktu itu ada lomba antar sekolah di desa kami. Saya salah satu yang ditunjuk mewakili sekolah.
Ketika tiba giliran, nama saya disebut dan saya langsung maju ke depan. Ternyata ada murid lain dari sekolah lain yang juga maju. Sebenarnya sekolah dia yang harus maju duluan. karena sangat PD, saya pikir nama Muchdie cuma saya yang punya. Karenanya, dia yang harus duluan. Disini saya baru sadar bahwa nama Muchdie bukan cuma punya saya. Bahkan di satu desa ada dua nama yang sama dan kira-kira seusia. Muchdie yang lain sekolah tadi kemudian jadi saudara karena dia menikah dengan sepupu saya.
Makanya kemudian ketika pertengahan tahun 90an, ketika Brigjen Muchdie sedang ngetop-ngetopnya (dianya pake e dibelakang gak ya..) saya gak terlalu kaget lagi. Dan bahkan ketika beberapa waktu yang lalu beliaunya menyerahkan diri sehungungan dengan kasus meninggalnya Munir. Tapi beberapa orang komentar, ternyata pembunuh Munir gak jauh-jauh. Saya bilang : oh itu .. dia PR, kalau saya Dr. Bedakan..
Kemaren lebih seru lagi. Saya diundang oleh Direktur Litbang Depdiknas, Prof. M. Munir untuk rapat membahas persiapan pelaksanaan PINMAS di Semarang. Kata temen-temen, walah.. Munir malah ngundang Muchdie untuk rapat. terus tersangkanya siapa ???
Ya gitulah kalau satu (bahkan dua) nama tapi lain orang..
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar